Mendeteksi dan Pencegahan Perdarahan pada Persalinan

Mendeteksi dan Pencegahan Pendarahan pada Persalinan

Mendeteksi dan Pencegahan Perdarahan pada Persalinan - Setelah ibu melahirkan, ada ibu-ibu yang mengalami pendarahan. Darah yang keluar tersebut, umunya berasal dari pembuluh darah pada dinding rahim yang terbuka, karena plasenta lepas dari tempatnya melekat. Biasanya, pendarahan yang terjadi tidak banyak. Hal ini disebabkan karena, bila terjadi kontraksi setelah persalinan, maka otot-otot rahim akan menekan pembuluh-pembuluh darah yang terbuka tadi, sehingga rongga pembuluh darah menutup. Karenanya pendarahan tidak berlangsung lama dan jumlahnya pun sedikit. Namun, kalau darah yang keluar lebih dari 500 ml, dan berlangsung sampai sekitar 24 jam setelah melahirkan, maka keadaan ini disebut perdarahan berat.

Keadaan yang dapat menimbulkan perdarahan berat antara lain, otot rahim lemah. Perdarahan yang terjadi karena otot rahim lemah biasanya akibat proses persalinan yang berlangsung lama, atau karena pembesaran rahim yang berlebihan. Pembesaran rahim yang berlebihan ini bisa terjadi, misalnya, karena hamil kembar, cairan ketuban terlalu banyak, ukuran janin terlalu besar, atau karena si ibu terlalu sering melahirkan.

Lemahnya otot rahim juga dapat disebabkan oleh salah penanganan pada saat kala (tahap) III, yakni pada saat plasenta lahir/keluar. Pada saat itu mungkin si penolong persalinan memijat rahim dan mendorongnya ke bawah dalam upaya mengeluarkan plasenta. Sementara, sebenarnya plasenta belum terlepas dari dinding rahim.

Hal lain yang juga bisa menyebabkan perdarahan adalah terjadi luka pada jalan lahir, dan sebagian plasenta tertinggal di dalam rahim. Bila hanya sebagian plasenta yang terlepas, rahim pun tidak dapat berkontraksi dan menciut dengan baik, sehingga pembuluh darah dalam keadaan terbuka. Begitu pula halnya kalau masih ada sebagian kecil dari plasenta yang tertinggal di dalam rahim. Perdarahan juga dapat terjadi karena kelainan proses pembekuan darah, janin meninggal sewaktu masih dalam rahim, atau penyumbatan air ketuban.

Upaya Mendeteksi Perdarahan Pada Persalinan


Perdarahan tidak selalu disertai keluarnya darah yang banyak. Kadang-kadang, darah yang keluar hanya sedikit, tidak berlangsung lama. Karena berlangsung lama itulah anda dapat mengalami kekurangan darah. Mereka yang mengalami hal ini akan menunjukkan gejala-gejala wajah pucat, nadi serta pernapasan cepat, namun tekanan darah turun. Kalau perdarahan berlangsung lama, anda bisa mengalami syok. Itu sebabnya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, sampai dengan satu jam setelah bayi lahir, anda masing dibaringkan dalam kamar persalinan. Sesudah melewati waktu itu, kalau kondisi fisik anda baik-baik saja, barulah anda dipindahkan ke kamar pemulihan. Dengan demikian bidan atau perawat dapat lebih cermat memantau keadaan anda, sehingga bila terjadi perdarahan dapat segera dilakukan tindakan untuk mengatasinya.

Misalnya saja, bila perdarahan terjadi karena plasenta belum keluar, maka plasenta akan diusahakan untuk segera dikeluarkan. Kalau perdarahan terjadi setelah plasenta keluar, maka akan dilihat kembali apakah perdarahan tersebut karena otot rahim lemah ataukah karena perlukaan jalan lahir.

Otot rahim yang lemah dapat diketahui dengan mudah karena tanda-tandanya jelas. Seperti, rahim lebih besar dari kehamilan biasa, lembek dan tidak cukup kuat berkontraksi, bahkan mungkin tidak ada kontraksi sama sekali. Sedangkan, pada perdarahan akibat adanya perlukaan jalan lahir, rahim berkontraksi dengan baik.

Perdarahan setelah persalinan juga memudahkan terjadinya infeksi nifas. Karena daya tahan tubuh si ibu berkurang dengan keluarnya darah yang banyak sehingga membuat kesehatan ibu menjadi terganggu.

Jika si ibu banyak mengeluarkan darah, akibatnya bisa fatal. Itu sebabnya bila terjadi perdarahan, si ibu perlu mendapatkan tambahan darah. Namun, pertolongan tersebut sebaiknya tidak terlambat dilakukan. Dan, ini hanya bisa tercapai, bila anda melahirkan di rumah sakit.

Upaya Pencegahan Perdarahan Pada Persalinan


Mengingat perdarahan dapat membahayakan jiwa ibu, maka upaya yang paling baik adalah melakukan pencegahan. Misalnya, bila anda menderita anemia (kekurangan sel darah merah) selama kehamilan, segeralah atasi hal ini. Karena dalam keadaan anemia, perdarahan yang sebenarnya masih dalam batas normal sudah dapat membahayakan si ibu. Ibu yang menderita anemia sebaiknya melahirkan di rumah sakit supaya kondisi fisiknya bisa terus dipantau.

Perdarahan mungkin saja terjadi walaupun kehamilan anda selama 9 bulan berlangsung baik-baik saja. Begitupun kalau penolong persalinan cepat tanggap dan terampil, serta anda mematuhi semua petunjuk yang diberikan, maka masalah ini lebih mungkin diatasi.

Mendeteksi dan Pencegahan Pendarahan pada Persalinan

0 Response to "Mendeteksi dan Pencegahan Perdarahan pada Persalinan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel